Ketagihan Ikut Pelayaran RSTKA | dr. Ayu Dewi

Aku Ayu, salah satu relawan dokter umum di  Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. Awalnya, pertama kali bergabung itu dimulai dari setelah aku baru selesai Internsip (program wajib satu tahun untuk dokter umum) kemudian ada berita mengenai bencana gempa di Lombok. Sejak awal menjadi mahasiswa aku memang sudah bergabung dengan salah satu organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan dan kesehatan Indonesia yang ada di Surabaya, namun setiap kali ada bencana dan aku mau ikut terjun langsung selalu tidak mendapaatkan izin dari orang tua. Nah, di Minggu pertama gempa kebetulan itu aku lihat ada informasi dari salah satu akun sosial media yang aku follow kalau RSTKA ini membuka perekrutan relawan, kemudian kau minta izin ke orang tuaku ternyata orang tuaku mendukung aku banget sampai dibantu untuk menghubungi contact person-nya. Namun, saat aku mau menghubungi contact personnya ternyata relawan tahap satu sudah cukup dan siap berangkat. Pikirku, mungkin akan ada tahap dua tapi itu juga beelum pasti juga. Yasudahlah, aku ikhlaskan. Menurutku, kalau itu memang jalanku Insyallah aku bisa berangkat. Alhamdulillahnya ternyata diberangkatkan di minggu kedua.

Nah, waktu pengalaman di Lombok itu aku mendapatkan banyak kenalan. Aku yang pada dasarnya sering merasa inferior, apalagi aku berasal dari Fakultas Kedokteran di salah satu Universitas swasta, kemudian masuk ke lingkungan Fakultas Kedokteran negeri salah satu yang terbaik di Indonesia pula. Awalnya, aku sempat berpikir masa bodo apapun yang terjadi biarlah terjadi pokoknya tujuanku Insyallah baik. Tapi, luar biasanya mereka, tim yang akan berangkat bareng aku (FK Unair 2012 yang masih mau internsip) orang-orang di kapal dan semua yang terlibat waktu kegiatan itu penerimaan mereka baik banget, komunikasinya bagus, apalagi dari segi kerjasama tim. Aku di tengah-tengah teman-teman relawan yang lainnya merasa diterima dengan lingkungan yang ada, ditambah lagi respon yang diberikan oleh mereka itu baik. Pokonya pulang dari sana tu rasanya kayak abis dicharge, berenergi kembali sampai rasanya ketagihan dan pengen ke sana lagi.

Selanjutnya aku akan menceritakan kembali sebuah pelayanan yang pernah aku lakukan di pulau yang kurasa itu sangat kecil. Namanya pulau Ende, sebuah pulau yang terletak di Kabupaten Ende yang ada di daratan Flores, memiliki luas sekitar 63 Km2. Sangat mungil banget dan bisa berkeliling hanya dalam beberapa hitungan jam. Di pulau Ende, kendaraan yang paling besar juga odong-odong (semacam motor beroda 3), tidak ada mobil. Menurutku, fasilitas kesehatan yang ada di pulau Ende ini sangat benar-benar kurang memadai, dimulai dari hanya ada satu puskesmaas dengan satu dokter gigi dan satu dokter umum, sampai yang lebih parahnya, rumah sakitnya hanya ada satu di Kabupaten ende yang harus ditempuh sekitar 45 menit kalau naik perahu motor kayu. Waktu kami ke pulau Ende, antusias warga di sana itu sangat luar biasa welcome banget dengan kami. Pelayanan dilakukan selama 3 hari efektif dengan total pasien yang dilayani bersama dokter umum saja ada 324 pasien, belum juga dokter spesialisnya.

Hari pertama masih memadai, ada 6 dokter umum dan 1 dokter yang dari puskesmas. Semua dokter fokus pada tugasnya masing-masing di puskesmas. Hari kedua, dokter umumnya dipecah, sebagian bertugas di poli umum puskesmas, sebagian lagi di penyuluhan diluar puskesmas dan sisanya membantu operasi di kapal. Hari ketiga ini merupakan hari yang paling menantang namun dengan antusiasme masyarakat yang sama besarnya seperti hari-hari kemarin. Dibalik antusias masyarakat, kami pada saat itu mengalami kendala internal yaitu tenaga relawan berkurang drastis, karena di hari ketiga ini sebagian spesialis, perawat dan lima dari enam relawan dokter umum sudah harus pulang, dokter umum yang tersisa hanya ada aku saja sedangkan pelayanannya masih dibuka di bagian poli umum dan operasi di kapal. Namun, alhamdulillahnya dengan ijin Allah dan kerja sama yang sangat baik pula dari segala penjuru, akhirnya semua bisa diselesaikan dengan lancar dan tepat waktu walaupun harus melalui drama. Bonus dari pelayanan ini  kami masih sempat-sempatnya keliling dengan odong-odong, menangkap jejak foto di sudut-sudut pulau.

Fyi, backgroundku memang dokter umum. Namun, karena sudah beberapa kali ikut pelayanan dengan RSTKA jadi aku juga bantu-bantu koordinasi dan segala macam urusan lain. Seperti memastikan tempat tinggal dan konsumsi relawan, memplotting tempat untuk poli-poli, mempersiapkan pre-post op, dan lain-lain. Sedangkan, bagian farmasi berada di puskesmas untuk memastikan kesediaan alat dan bahan di puskesmas. Pada dasarnya aku di sana serabutan, tugas apapun yang perlu dikerjakan kalau aku bisa, aku bantu. 

Pulau Ende menyimpan banyak sekali keindahan alam, tidak kalah menarik dengan pulau-pulau yang lainnya. Di sana masih ada pemandangan yaang luar biasa menarik, misalnya di pantai Ngazu Kapu. Setelah sebelumnya kami berhenti di satu bukit yang menampakkan sebagian sisi pulau dan pantai Ngazu kapu dari atas. Dan, sangat pas juga momennya saat itu matahari mulai terbenam. Rasa fisik sudah lelah namun terbayarkan dengan keindahan alam pulau Ende yang tak terduga. Oh ya, mungkin banyak orang Indonesia tidak tahu akan keberadaan Benteng Portugis yang ada di pulau Ende ini. Namun sayangnya, kami tidak sempat  kesana karena keterbatasan waktu. Hanya menyempatkan diri untuk berkunjung ke danau Kalimutu dan Rumah pengasingan Bung Karno. Hehe.

Mungkin, banyak yang penasaaran kenapa aku bisa ikut pelayanan sering kali bersama RSTKA. Jadi, setelah internsip itu sebenarnya kami sudah bisa jadi dokter mandiri, dalam artian, mau buka praktik sendiri boleh, mau kerja di rumah sakit boleh, mau PTT keluar pulau juga boleh, atau mau sekolah lagi juga boleh. Tapi, saat ini situasi dan kondisiku tidak mendukung rencana awalku untuk bekerja penuh waktu di satu tempat, singkat cerita dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku putuskan menjadi semacam dokter freelance gitu, jadi aku punya yang lebih fleksibel.

Nah, salah satu kendala RSTKA itu untuk mendapatkan relawan adalah waktu, agak sulit mendapatkan tenaga medis yang bisa meluangkan waktu untuk menyesuaikan kegiatan atau jadwal RSTKA. Jadi, setiap kali ada informasi jadwal pelayaran dari official RSTKA, seringkali aku menawarkan diri atau ditawari untuk ikut karena aku punya waktu yang lebih fleksibel.

Menurutku, di Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga ini selama kegiatan tidak ada yang kenal dengan namanya lelah. Operasi sampai jam 2 pagi pun masih juga happy. Mungkin, karena tim-nya selalu kompak dan menyenangkan, padahal baru kenal tapi rasanya seperti sahabat lama, seperti keluarga yang saling mensupport. Mungkin juga karena energi positif dari masyarakat yg mendapat pelayanan dari kami. Mungkin karena niat baik kami yang Allah mudahkan. Entahlah..

Ayu, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.