Warga Kepulauan Butuh Kita – Ekspedisi Maluku Barat Daya

Maluku Barat Daya, bagian dari Provinsi Maluku yang mungkin menjadi stress pointdalam karirku menjadi tenaga medis, dokter. Menjalani bakti Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA), ditempuh dalam kurun waktu kurang lebih 3 minggu lamanya memberikan banyak kesan yang mendalam. Banyak pengalaman yang ingin aku goreskan melalui cerits pena ini. Namun biarkan aku menjabarkan satu cerita saja, yang mungkin bisa mewakili pengalamanku disana. Pulau Wetar tepatnya, salah satu pulau terbesar di Maluku Barat Daya. Aku dengan kawan-kawan relawan, datang di minggu kedua, tepatnya di bulan November. Pulau yang paling hijau dibandingkan pulau-pulau yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Dan, inilah cerita pengalamanku dimulai.

Saat itu, kapal Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga itu pun akhirnya berhasil menyentuh dermaga. Kemudian, persiapan kami lakukan untuk melakukan bakti sosial. Berkat bantuan TNI di perbatasan, dan kepala daerah setempat, kami cukup dimudahkan untuk melakukan bakti sosial di pulau tersebut. Ketika kami berjalan menyusuri dermaga. Warga sudah mengantri, mengantri menyambut kedatangan kami. Awalnya yang lebih banyak terlihat itu siswa berseragam sekolah dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Akhir yang menyambut kami. Namun, dengan berjalannya waktu, segerombolan warga pulau Wetar akhirnya datang berbondong-bondong ikut menyambut kami.

Tidak seperti pulau-pulau sebelumnya, disini kami benar-benar “dijamu” dan diberi “panggung”. Seperti kunjungan orang-orang penting gitu, “Memberikan pelayanan di pulau terpencil itu harus seperti yang tertulis di naskah proklamasi, di jalankan secara seksama, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” ujar dr Agus H. Sp.B sang inspiratorku untuk pengabdian di daerah-daerah perifer. Selalu saja begini, ketika mendengar aksara yang beliau lontarkan, selalu membuatku terkesima. Dan mungkin, ini suatu keberuntunganku dipertemukan oleh beliau.

Kembali lagi di ceritakan ketika aku dan teman-teman relawan sudah menginjakkan kaki di Pulau Wetar. Selanjutnya, kami menyiapkan kegiatan untuk melakukan pelayanan kesehatan disana, dimulai dari sambutan-sambutan perwakilan dari tim RSTKA dan perwakilan dari desa setempat. donasi yang terkumpul akan kami digunakan untuk kegiatan operasional RSTKA

Selang beberapa waktu kemudian, salah seorang warga dengan berani menginterupsi sambutan-sambutan. “Kita disini jauh-jauh datang dari desa sebelah!, dijanjikan untuk didatangkan dokter mata! tapi mana?! Sudah sering kegiatan seperti ini ada, tapi ini kami lebih butuh dokter mata!!” Ungkapnya.

Para audiens dan pemangku daerah sempat terdiam mendengarkannya. Tidak jauh beda denganku juga, yang sempat merasa speechless dengan drama apa yang terjadi ini. Kemudian, perwakilan dari audiens sempat mencoba menenangkan dengan perlahan. Dan aku, dalam keadaan yang seperti ini, masih sempat-sempatnya menyelami pikiranku dengan mengakui dan merasakan kekecewaan apa yang dirasakan oleh warga setempat maupun warga yang datang dari desa lain. Nyatanya, tidak mudah akses perjalanan yang ditempuh untuk sampai di desa yang dikunjungi oleh kami. Sangat jauh sekali.

Ketika rasa penasaran menggerogoti hati dan pikiran, aku langsung menanyakan hal demikian kepada siapapun yang tahu, dan beberapa sumber mengatakan tim mata tidak bisa hadir karena kesibukan tahunan yang sulit untuk ditunda. Namun, disini aku mengakui rasa kekecewaanku kembali menguap pada persiapan kami sendiri. Mungkin aku hanyalah relawan yang memberi sedikit ataupun tidak memberikan pengaruh sama sekali atas terlaksananya bakti sosial ini. Namun, ini menjadi pelajaran kita bersama termasuk saya sendiri. Totalitas tanpa batas! perlu teman-teman medis di Surabaya ataupun di daerah perkotaan untuk bisa lebih tergugah hatinya akan kesehatan di Indonesia timur. Wajar, sarana dan prasarana memang belum memadahi, namun pioneer memang hakekatnya seperti itu. Negara ini butuh banyak pioneer yang kreatif, yang gigih, yang tidak menjadikan kekurangan menjadi masalah, mencari solusi apapun dan sesimpel, terutama terhada problem kesehatan yang ada.

Mendadaknya tim mata dari kami tidak dapat datang pada perhelatan memang memicu sedikit ketegangan, namun memberi banyak pelajaran. Terutama bagiku dan teman-teman yang notabene masih fresh graduate dari sekolah dokter. Kita belajar banyak dari dosen-dosen hebat kita, dan kita tentu harus melanjutkan tongkat estafet pembangunan kesehatan yang sudah di gagas sebelumnya.

Aku lanjutkan alur cerita ini, panas matahari tepat di atas ubun-ubun dan itu artinya pelayanan kami akan dimulai. Aku cenderung mobile, karena memang aku ber-jobdesk mengambil dokumentasi. Ya aku akui, teman-teman kami sudah terlihat letih atas rutinitas yang kami lakukan selama hampir dua minggu ini. Berusaha konsisten memberi senyum, namun dahaga dan sengat matahari memberi candu untuk memasang muka datar. Tapi jangan salah, semua yang kami lakukan sekarang pada dasarnya dengan rasa ikhlas.

Akhir dari acara, dr Agus menyuruhku menghampiri kediaman pasien nyonya P. Karena permintaan keluarga. Sesampai disana, aku melihat pasien tersebut tiduran dengan tubuh sebelah kiri tidak bisa di gerakan. Mukanya mencong, berbicarapun juga sangat sulit. Kurus, otot pun sulit dibedakan dengan tulang kalau dilihat sekilas. Keluarga yang datang meminta untuk diperiksa. Semua data kesehatan diberikan kepadaku beserta segala obat-obatan standar puskesmas diberikan kepadaku termasuk hasil CT Scan yang terlihat jelas gambaran tumor pada otak sebelah kanan yang hampir 1/10 besarnya otak. Mata semua anggota keluarganya melihatku, terlihat menanti suatu harapan bahwa ibu mereka dapat segera sembuh. Namun, aku kesini hampir tidak ada bedanya dengan penunggu meja restoran, hanya bisa mengambil data-data yang ada dan mengatakan, “Bu, ini kami sampaikan dulu ya ke surabaya, nanti kami segera beri kabar secepatnya untuk tahap pengobatan definitifnya. Mohon bersabar”. Dan mereka menjawabnya, “Saya minta tolong ya dokter, sudah lama sekali ibu sakit, tidak kunjung sembuh, terima kasih banyak atas bantuannya”. Jujur, aku mencoba mengubah pola pikirku jika menjadi seperti mereka, aku bakal berpikir semoga dokter ini tidak seperti cewek jaman now, sukanya php terus. Huhu.

dr. Arya

Kembalinya aku ke kapal, aku buat case report pasien yang bersangkutan segera, dan kulanjutkan rutinitas lainnya, yaitu persiapan operasi.

Mungkin, aku hanyalah seorang manusia biasa yang kebetulan punya ilmu, pengalaman dan mampu mengimplementasikannya melalui wadah yang sudah disediakan. Namun, aku berpesan untuk semua agent of change terutama juga untuk aku, yang mungkin dianggap sudah berkontribusi membantu melakukan perubahan walaupun itu hanya dipandang seujung kuku jari kelingking. Perlu kalian ketahui, mewujudkan Indonesia yang adil dan beradab, tidak mudah kawan. Ketika kamu berada disini, semua yang bisa dirasakan hanyalah pesimis. Pesimis kalau pelayanan kesehatan bakal bisa sebaik yang kita terima seperti di pulau Jawa. Memang, semua bakal menjadi baik dengan seiring berjalannya waktu. Namun, semua bakal menjadi lebih cepat kalau kita semua bisa ikut bertanggung jawab mewujudkan itu, tidak semuanya pemerintah yang selalu di kambing hitamkan.

Jadi, perlu diingat penyataan dari Franklin D. Roosevelt, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tanyakan pada dirinya, apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu”

Arya, 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *